Proyek P5 Kurikulum Merdeka Dan Kokurikuler Terbaru

Dalam Kurikulum Merdeka, Proyek P5 merupakan kegiatan pembelajaran berbasis projek yang bertujuan mengembangkan karakter dan kompetensi. P5 adalah kependekan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Namun, kebijakan kurikulum telah mengalami penyesuaian: regulasi terbaru memperkenalkan Profil Lulusan dan kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel. Karena itu, sekolah dan orang tua perlu memahami arti Proyek P5 Kurikulum Merdeka sekaligus konteks penerapannya sekarang.

Pada pelaksanaannya, kegiatan kokurikuler memungkinkan murid mengaitkan pengetahuan dengan kebutuhan atau masalah yang dijumpai dalam kehidupan nyata. Tujuannya tidak hanya membuat produk atau menyelenggarakan acara. Prosesnya perlu membantu murid mengembangkan kompetensi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan merefleksikan pembelajaran. Panduan ini menjelaskan pengertian P5, perubahan kebijakan, cara merancang kegiatan, serta hal yang perlu diperhatikan saat melakukan asesmen.

 

Apa itu Proyek P5 Kurikulum Merdeka?

Apa itu Proyek P5 Kurikulum Merdeka

Proyek P5 adalah kegiatan kokurikuler berbasis projek yang sebelumnya dirancang untuk menguatkan kompetensi dan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada murid untuk belajar melalui eksplorasi isu, kerja kolaboratif, aksi, dan refleksi.

Pembelajaran intrakurikuler mengacu kepada pencapaian pembelajaran dari setiap mata pelajaran, sedangkan projek kokurikuler mengintegrasikan dari berbagai pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman yang lebih kontekstual. Murid dapat mengamati lingkungan, mengajukan pertanyaan, mengolah informasi, merancang langkah, lalu menilai hasil dan prosesnya.

Projek bukanlah sekedar tugas kelompok dengan tema yang menarik. Guru perlu menetapkan tujuan yang jelas dan memastikan aktivitas memberi ruang bagi murid untuk berpartisipasi. Hasil dari kegiatan ini bisa berupa produk, presentasi, perubahan kebiasaan, layanan, atau karya lain yang sesuai dengan tujuannya.

Panduan resmi tentang Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menerangkan karakter projek dan penerapannya dalam Kurikulum Merdeka. Sekolah tetap perlu membaca regulasi terbaru agar istilah, struktur, serta perencanaan yang digunakan sesuai kebijakan yang berlaku.

 

Bagaimana kebijakan P5 berubah?

Perubahan regulasi tidak berarti Kurikulum Merdeka dihapus. Sejumlah ketentuan kurikulum mengalami penyesuaian melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, termasuk perubahan istilah Profil Pelajar Pancasila menjadi Profil Lulusan dan penguatan kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel. 

Kemendikdasmen menyatakan bahwa delapan dimensi Profil Lulusan menyempurnakan dimensi profil sebelumnya. Delapan dimensi itu mencakup keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Sekolah perlu merujuk naskah regulasi serta panduan implementasi, bukan hanya mengandalkan istilah yang beredar di media sosial.

Untuk mengetahui landasan hukumnya, pelajari Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 di JDIH BPK. Siaran pers Kemendikdasmen tentang arah penyesuaian kurikulum menjelaskan hubungan Profil Lulusan dengan pembelajaran mendalam serta kegiatan kokurikuler yang lebih fleksibel. 

Karena itu, istilah P5 masih kerap digunakan untuk menerangkan pendekatan projek yang dikenal sebelumnya. Meski demikian, dokumen perencanaan baru sebaiknya menggunakan istilah dan ketentuan yang berlaku di satuan pendidikan. Sekolah dapat memeriksa panduan terbaru sebelum menyusun program tahunan.

 

Prinsip merancang kegiatan projek yang bermakna

Kegiatan projek yang efektif memiliki tujuan belajar yang dapat dipahami murid dan relevan dengan konteks sekolah. Guru sebaiknya tidak langsung menentukan produk yang akan dipamerkan. 

Awali dengan menetapkan kompetensi atau dimensi profil yang ingin dikembangkan, kemudian rancang pengalaman belajar agar murid dapat berlatih secara nyata. Prinsip-prinsip berikut dapat membantu kegiatan tetap terarah:

  • Kontekstual

Isu atau kebutuhan yang diangkat dalam kegiatan berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan murid.

  • Berpusat pada murid

murid mendapat peran untuk bertanya, memilih cara kerja, dan mengambil keputusan sesuai tahap perkembangannya.

  • Kolaboratif

guru, murid, keluarga, dan komunitas dapat terlibat sesuai tujuan dan kapasitas masing-masing.

  • Inklusif

Kegiatan menyediakan akses dan peran yang bermakna bagi murid dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

  • Reflektif

proses menyediakan waktu untuk menilai perkembangan, tantangan, dan langkah lanjutan.

Namun, kolaborasi tidak berarti semua pihak harus terlibat dalam setiap tahap. Sekolah dapat memilih dukungan yang paling relevan. Yang penting, pembagian peran jelas dan keterlibatan pihak luar tidak mengambil alih pengalaman belajar murid.

 

Tahapan merancang kegiatan kokurikuler

Perencanaan dapat dilakukan secara bertahap. Rincian strukturnya merujuk pada regulasi dan panduan satuan pendidikan, sementara alur kerja berikut dapat membantu tim menyelaraskan tujuan, aktivitas, dan asesmen.

Tahap

Pertanyaan panduan

Hasil yang perlu disiapkan

Analisis konteks

Kebutuhan dan kondisi apa yang relevan dengan kehidupan murid?

Pemetaan kondisi, sumber daya, dan kebutuhan belajar

Penetapan tujuan

Kompetensi atau dimensi profil apa yang dikembangkan?

Tujuan pembelajaran yang terukur dan sesuai fase

Perancangan aktivitas

Pengalaman apa yang memberi ruang eksplorasi dan aksi?

Rangkaian aktivitas, waktu, peran, dan bahan

Asesmen

Bukti apa yang menunjukkan perkembangan murid?

Kriteria, instrumen, dan jadwal umpan balik

Refleksi dan tindak lanjut

Apa yang berhasil dan perlu disesuaikan?

Catatan evaluasi dan perbaikan program

Pada tahap awal, tim sekolah menelaah karakteristik murid, lingkungan, waktu, dan sumber daya yang tersedia. Dengan begitu, rencana yang terlalu ambisius atau sulit dilaksanakan dapat dihindari. Selanjutnya, guru menetapkan tujuan yang selaras dengan kebutuhan peserta didik dan kebijakan kurikulum.

Setelah tujuan jelas, susun aktivitas dari tahap pengenalan hingga refleksi. Berikan kesempatan kepada murid untuk menghimpun informasi, membahas temuan, menentukan tindakan, serta menilai hasilnya. Asesmen sebaiknya disusun sejak awal agar bukti belajar terkumpul sepanjang proses, bukan hanya menjelang pameran atau presentasi.

 

Asesmen dan refleksi selama projek

Asesmen sebaiknya mengamati perkembangan kompetensi, bukan hanya menilai benda yang dihasilkan. Produk akhir memang bisa menjadi bukti, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan proses belajar setiap murid. Guru dapat mengumpulkan catatan observasi, jurnal refleksi, dokumentasi proses, presentasi, umpan balik teman, dan hasil karya.

Kriteria penilaian juga harus dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Murid perlu mengetahui aspek yang dinilai, seperti kualitas kerja sama, penggunaan informasi, kemampuan menjelaskan keputusan, atau tindak lanjut terhadap masukan. Kriteria tersebut harus sesuai tujuan, bukan sekadar daftar perilaku umum.

Refleksi memberi kesempatan kepada murid untuk mengenali apa yang dipelajari dan bagian yang masih perlu diperbaiki. Guru juga dapat memakai hasil refleksi untuk menyesuaikan kegiatan berikutnya. Sekolah dapat merujuk pada panduan kegiatan kokurikuler dari Sistem Informasi Kurikulum Nasional untuk memahami arah serta komponen kegiatan berdasarkan kebijakan terbaru.

 

Informasi singkat terkait P5

Apakah P5 masih ada dalam Kurikulum Merdeka?

Dalam kebijakan sebelumnya, istilah P5 berarti projek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Regulasi terbaru mengganti istilah profil menjadi Profil Lulusan dan menetapkan kegiatan kokurikuler secara lebih fleksibel. Sekolah perlu mengikuti dokumen dan panduan terkini.

Apakah Kurikulum Merdeka dihapus?

Tidak. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 memperbarui beberapa ketentuan kurikulum, tetapi tidak menghapus Kurikulum Merdeka. Perincian perubahan bisa dilihat dalam regulasi resmi.

Apa perbedaan intrakurikuler dan kokurikuler?

Intrakurikuler adalah merupakan pembelajaran mata pelajaran yang dirancang sesuai struktur kurikulum. Kokurikuler memperkuat kompetensi melalui kegiatan yang mendukung pembelajaran, termasuk pengalaman lintas disiplin dan penerapan pengetahuan.

Apakah kegiatan kokurikuler harus menghasilkan produk?

Tidak harus selalu berupa produk fisik. Bentuk hasil perlu mengikuti tujuan kegiatan dan dapat berupa layanan, presentasi, dokumentasi, perubahan proses, atau bentuk lain yang menunjukkan pengalaman belajar.

Sebelum menyusun program, cocokkan tujuan, istilah, dan asesmen dengan regulasi terbaru serta kebutuhan murid di sekolahmu.